Merokok sambil ngopi di teras belakang rumah, ditemani gemericik air di jambangan yang berisi ikan, walaupun tempat itu adalah tempat jemuran yang notabene adalah pemandangan yang agak semrawut tapi bagi saya adalah keasyikan dan ‘klangenan’ tersendiri.
Mengingat jamannya Order Baru, pada saat gaji masih relative kecil, tapi ingin makan enak masih bisa dijangkau dengan rupiah yang sedikit. Apalagi pada saat masih bujang. Tiap tanggal muda selalu diawali dengan kongkow di salah satu tempat nongkrong di Semarang, hanya sekedar untuk menikmati coffee rum ataupun capucino, sekali lagi dengan harga terjangkau. Kalau ingat masa itu, hmm rasanya ingin mengulang lagi, walaupun impossible.
Belakangan, masa keemasan harga murah pudar sudah, diganti dengan harga yang selangit, apapun bentuk dan nama barang tersebut. Mulai dari kancing baju sampai beras, sampai-sampai ada ‘rakyat Indonesia’ yang harus makan nasi aking, yaitu nasi yang dibuat dari nasi kemarin (mungkin sudah basi) yang dijemur dan ditanak lagi, masih lumayanlah kalau bisa makan nasi jagung atau gaplek sekalipun. Kembali ke harga mahal. Apalagi yang namanya BBM, dimana beliau adalah dewa dari segala harga. Saat harga BBM murah semua barang akan murah (seperti masa lalu), dan begitu minyak mentah mencapai harga USD 140-an lebih, masyarakatpun (yang masuk golongan ‘ELITE’, ekonomi sulit, termasuk saya) ikut menjerit, mungkin jeritannya dalam hati, soalnya pemerintah tidak pernah mendengar dan seolah-olah mengacuhkan jeritan itu.
Kadang saya bingung dengan negeri saya sendiri, Indonesia. Kata guru-guru saya waktu sekolah, Indonesia adalah negara agraris, lain waktu disebut negara maritim, ada juga bapak-bapak pejabat yang mengurus masalah korupsi bilang, ‘negara kita adalah negara hukum, jadi semua koruptor perlu dihukum bla…bla…bla…’. Heh, padahal dia sendiri adalah seorang koruptor kelas kakap. Bandit teriak maling ! Mungkin buat orang awam seperti saya, hal itu bisa mencerminkan keraguan Indonesia dalam hal jati diri. Tapi disatu sisi, mungkin juga Indonesia adalah Negara yang kaya akan potensi. Bisa berhasil dengan baik bila diolah dengan visi dan misi sebagai Negara agraris, jadi tidak perlu lagi kita meng-import beras dari Vietnam, atau buah-buahan dari Bangkok (jambu Bangkok, durian Bangkok, dll). Tidak ada lagi demo petani bawang merah yang membakar bawangnya, dan tidak ada lagi petani padi yang berpenampilan kumuh. Bandingkan dengan negara lain (Vietnam), yang mempunyai petani dengan kemakmuran dan kesejahteraan yang sangat baik, karena campur tangan dari pemerintahan yang sangat serius menggarap potensi itu. Kembali ke negara kita dewe, mungkin juga potensi berikutnya, sebagai negara maritim, yang memang ditunjukkan oleh wilayah kelautan yang luar biasa. Budi daya kelautan akan sangat menjanjikan, ekspor ikan ke Negara-negara konsumen ikan, atau paling jelek adalah memberi makan rakyatnya dengan ikan murah, dengan jalan mengelola dan mengurus nelayan dengan baik. Paling tidak hal itu akan memperbaiki kualitas intelegensi rakyatnya sendiri. Ingat akan Negara Jepang ? Bagaimana pola makan mereka menstimulan intelektual mereka. Saya tidak tahu pasti hubungan sebab akibatnya, yang saya tahu orang Jepang adalah konsumen ikan paling jago dan ternyata mempunyai otak yang jago pula. Nah, dengan Negara seluas Indonesia, bayangkan apa yang terjadi bila separuh saja orang kita mempunyai kualitas seperti Jepang.
Kedua bentuk tadi adalah hanya sebagai contoh, bisa saja tiba-tiba pemerintah menentukan landasan dan visi serta misi sebagai Negara industri, dan apapun bentuknya tetap dengan penegakan hukum yang benar. Artinya tidak ada lagi kasus-kasus suap, korupsi, dll yang merongrong negerinya sendiri. Koruptor, tembak mati seperti halnya di Cina. Itu akan membuat calon pelaku berpikir berkali-kali sebelum melaksanakan niat buruknya menikmati uang rakyat.
Mungkin, karena saya orang awam saya mempunyai pandangan yang sederhana tentang Indonesia. Keterpurukan Indonesia saat ini juga disebabkan oleh hal-hal itu. Ketiadaan visi, misi yang jelas. Mau dibawa kemana Negara ini. Penegakan hukum yang ragu-ragu kalau tidak bisa dibilang angin-anginan. Yang membuat calon pelaku yang mempunyai niat buruk akan membulatkan tekadnya untuk melaksanakan, toh semua bisa diatur. Ini terbukti di berita seluruh media, bahkan sampai di tingkat tinggi sekali. Belum lagi potensi dalam negeri yang dianggap angin lalu, mungkin karena import barang lebih menjanjikan keuntungan buat suatu golongan dibanding bila produksi dalam negeri digenjot untuk konsumsi sendiri.
Tambang apapun itu yang dibutuhkan semua negara, Indonesia kaya akan hal itu. Tinggal membangun infra struktur dan sumber daya manusia, saya yakin Indonesia bisa meninggalkan pesaing-pesaingnya. Apa tidak ingin seperti Venezuela atau Arab Saudi yang memanjakan rakyatnya dengan BBM murah ? Sebodoh-bodohnya (ini kondisi paling extreme) orang Indonesia, masakan tidak bisa mengambil alih tehnologi dari Negara asing dalam jangka waktu tertentu ? Sungguh suatu pelecehan bila Indonesia tidak diberi kesempatan itu.
Pendidikan yang notabene adalah pilar pembangunan Negara, bukannya dikelola dengan baik dan dengan biaya minim kalau tidak bisa gratis. Malahan kebanyakan dikelola oleh swasta dengan biaya yang sangat besar. Untuk anggaran pendidikan saja di APBN, Negara terlihat pelit. Seharusnya kalau mau sedikit berkorban, untuk kepentingan jangka panjang, saat ini pendidikan sangat diutamakan sehingga beberapa tahun ke depan akan terlihat hasilnya.
Terus terang, saya adalah orang awam yang tidak tahu bagaimana sebab akibat dan hubungan semua hal di Negara ini. Itu tadi hanya sekedar uneg-uneg saya yang sudah mulai pusing memikirkan nasib anak-anak saya yang lahir di Indonesia tercinta ini. Juga keluh kesah saya, yang merasa belum merdeka (secara waktu dan financial), karena setiap hari kejar2an dengan yang namanya kebutuhan (dasar).
Mumpung rokok dan kopi belum habis, ijinkan saya melanjutkan menikmatinya. Paling tidak, itu yang bisa saya nikmati saat ini. ![]()
Pareng. Salam hangat dari saya…
[gambar : Raden Gatotkaca, semoga Indonesia akan menjadi sesakti dia dikemudian hari, agar tidak gampang dilecehkan ! - scan SM - ]
Melihat sosoknya itu saya tidak yakin dia adalah mister x, capo-nya salah satu gerakan separatis jaman dulu kala . Semula saya membayangkan ‘yang bukan-bukan’, karena saya tidak pernah begitu tertarik dengan segala macam berita politik. Bukannya saya apatis apalagi autis, tapi saya bener-bener muak dengan segala macam sumpah serapah yang diatas namakan politik. Bagiku politik identik dengan pembodohan.rakyat. Ujung-ujungnya, rakyat juga yang ‘ketiban awu anget’. Suwer…saya tidak pernah melihat photo atau gambar sosok mister x, walaupun di depan saya ada seperangkat computer lengkap dengan koneksi internet (walah..kok seperti mahar ya ), selama beberapa dekade (lebay…) saya tidak pernah tertarik untuk sekedar mengetikkan namanya di search engine manapun, sebelum akhirnya melihat di TV, itupun terpaksa karena dia di expose, jadi mau pindah ke channel manapun yang terpampang adalah sosoknya. Tapi…melihatnya tersenyum-senyum dan beremeh temeh, akhirnya menjadi hiburan tersendiri buat saya. Paling tidak saya bisa belajar, bagaimana caranya bersikap bila suatu saat menjadi semacam tokoh atau selebritis semacam dia, tentunya di bidang yang berseberangan dengan dia dan bidang yang saya anggap positif. Saat melihat dia di TV, kadang saya penasaran, sampai kuping saya tempel dekat2 di speaker TV, bahkan saking parahnya rasa penasaran saya, saya bela2in menancapkan jack ke speaker active, dan saya stel dengan volume yang ‘lumayan’. Hmmm, sebenarnya saya cuma penasaran pada saat dia berbicara, dengan bahasa apakah, dengan logat apakah, ataukah dia lupa hahasa ibunya ? Setelah dia berpuluh tahun berada di luar negeri, apakah dia masih ingat bahasa sini atau bahasa daerahnya ? Ternyata sampai sekarangpun rasa penasaran saya belum terjawab.